Jumat, 02 Desember 2011

Fungsi Supervisi Pendidikan

A.    Fungsi Supervisi Pendidikan

Ada bermacam-macam tanggapan tentang fungsi supervisi sesuai dengan devinisi yang lebih dikemukakan, namun ada suatu general agreement bahwa peranan utama dari supervisi adalah ditujukan kepada “perbaikan pengajaran”. Franseth Jane, dalam Piet A. Sahertian, berkeyakinan bahwa supervisi akan dapat memberi bantuan terhadap program pendidikan melalui bermacam-macam cara sehingga kualitas kehidupan akan diperbaiki oleh karenanya.[1] Sebagaimana Franseth Jane, demikian juga Ayer, Frend E. menganggap fungsi supervisi untuk memelihara program pengajaran yang ada sebaik-baiknya sehingga ada perbaikan.
Usaha perbaikan merupakan proses yang kontinyu sesuai dengan perubahan masyarakat. Masyarakat selalu mengalami perubahan. Perubahan masyarakat membawa pula konsekuensi dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Suatu penemuan baru mengakibatkan timbulnya dimensi-dimensi dan perspektif dalam bidang ilmu pengetahuan.
Perubahan falsafah, kultur, sosial ekonomis merubah sikap manusia dan juga bahan pengalaman belajar di sekolahpun berubah.
Sebagaimana W.H. Burton dan J. Bruckner menjelaskan bahwa fungsi utama dari supervisi modern ialah menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi hal belajar.[2] Sedangkan Kimball Wiles lebih tegas lagi mengatakan bahwa fungsi dasar dari supervisi ialah memperbaiki situasi belajar anak-anak.[3]
Makin jauh pembahasan tentang supervisi makin nampak bahwa kunci supervisi bukan hanya membicarakan perbaikan itu sendiri, melainkan supervisi yang diberikan kepada guru-guru, menurut T.H. Briggs juga merupakan alat untuk mengkordinir, menstimulir dan mengarahkan pertumbuhan guru-guru. (Briggs, Th.H. Improving instruction, New York, The Mac Millan Company, 1938, hal. 2). Di sini nampak dengan jelas implikasi perubahan-perubahan masyarakat yang membawa konsekuensi dalam cara mengatur langkah-langkah perbaikan pengajaran. Perubahan masyarakat-menentukan dimensi-dimensi baru terhadap fungsi supervisi. Hal itu jelas dalam suatu analisa fungsi supervisi menurut Swearingen sebagai berikut:
Swearingen memberi 8 fungsi supervisi:
a.       Mengkoordinir semua usaha sekolah.
b.      Memperlengkapi kepala sekolah.
c.       Memperluas pengalaman guru-guru.
d.      Menstimulir usaha-usaha yang kreatif.
e.       Memberikan fasilitas dan penilaian yang terus menerus;
f.       Menganalisa situasi belajar dan mengajar.
g.      Memberikan pengetahuan dan skill kepada setiap anggota staff;
h.      Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan kemampuan mengajar guru-guru.[4]
Fungsi-fungsi Swearingen tersebut diatas oleh Sahertian diperinci sebagai berikut:
1.      Mengkoordinasi Semua Usaha Sekolah.
Perkembangan sekolah makin bertambah luas, usaha-usaha sekolah makin menyebar, perlu ada koordinasi yang baik terhadap semua usaha sekolah.
Yang dimaksud usaha-usaha sekolah misalnya:
a.       Usaha tiap guru.
Ada beberapa guru yang mengajar suatu mata pelajaran yang sama dan tiap guru  ingin mengemukakan ide dan caranya kearah perbaikan pengajaran. Usaha-usaha perseorangan itu perlu dikoordinir.
b.      Usaha-usaha sekolah
Seorang supervisor berfungsi pada beberapa sekolah atau kelas. Bagaimana menyusun program sekolah, menentukan kebijaksanaan (policy) masing-masing sekolah secara konkrit, semuanya ini perlu ada koordinasi yang baik.
c.       Usaha-usaha pertumbuhan jabatan.
Setiap guru ingin tumbuh dalam jabatanya (professional growth) melalui in-service training, extersion course, workshop bagi guru-guru, semua usaha itu dapat lancar bila dikoordinir secara baik. Beberapa contoh untuk menjelaskan fungsi koordinasi yang merupakan salah satu fungsi supervisi.
2.      Memperlengkapi Kepemimpinan Sekolah
Dalam masyarakat yang demokratis kepemimpinan yang demokratis memegang peranan penting. Kepemimpinan (Leadership) dipandang sebagai suatu ketrampilan (skill). Ketrampilan memerlukan latihan. Jadi fungsi supervisi yaitu melatih dan memperlengkapi guru-guru agar mereka memiliki ketrampilan dalam kepemimpinan dalam kepemimpinan sekolah.
3.      Memperluas Pengalaman
Akar dari perluasan pengalaman terletak pada sifat hakiki manusia. Manusia selalu ingin mencapai kemampuan yang semaksimal mungkin. Seorang pemimpin dapat berfungsi sebagai pemimpin pendidikan, bilamana ia dapat membantu memberi pengalaman-pengalaman baru kepada anggota-anggota staf sekolah, sehingga selalu anggota staff makin hari makin bertambah dalam pengalaman dan hal belajarnya.   
4.      Menstimulir Usaha-Usaha Yang Kreatif
Perlunya usaha-usaha kreatif bersumber pada pandangan tentang manusia; ada yang beranggapan bahwa pada manusia selalu ada dorongan untuk “ mencipta” dan bertanggungjawab atas segala hasil yang diperolehnya. Demikian juga halnya dengan seorang supervisor wajib bertanya pada dirinya bagaimana ia dapat membantu, mendorong, mengembangkan kreatifitas anak-anak, atau orang yang dipimpinya dan ia sendiri. Kemampuan untuk menstimulus segala daya kreasi itu, merupakan salah satu fungsi utama supervisi.

5.      Memberikan Fasilitas Dan Penilaian Yang Kontinyu
Setiap situasi selalu berubah. Perubahan membutuhkan kemungkinan baru dan untuk mencapai kemajuan lebih lanjut, perlu ada penilaian yang efektif. Penilaian terhadap setiap usaha misalnya, memiliki bahan-bahan pengajaran, buku-buku pengajaran, perpustakaan, cara mengajar, kemajuan murid-muridnya harus bersifat menyeluruh dan kontinyu. Juga penilaian terhadap seluruh program sekolah. Penilaian yang teratur terhadap setiap usaha sekolah merupakan salah satu fungsi dari supervisi pendidikan.
6.      Menganalisa Situasi Belajar
Tujuan supervisi yaitu memperbaiki situasi belajar mengajar. Untuk mencapai tujuan, maka hasil belajar yang dicapai itu harus diuji apakah berhasil atau tidak. Usaha kearah itu pada galibnya adalah menganalisa situasi belajar itu sendiri. Yang dimaksud dengan situasi belajar mengajar yaitu situasi di mana semua faktor yang memberi kemungkinan bagi guru dalam memberi pengalaman belajar kepada murid untuk mencapai tujuan pendidikan. Banyak faktor yang termasuk dalam relasi guru dan murid (tujuan, alat, metode, materi, lingkungan guru, murid dan lain sebagainya).
Memperbaiki situasi belajar belajar mengajar berarti memperbaiki semua faktor yang disebut di atas. Fungsi supervisi yaitu menganalisa faktor-faktor tersebut diatas. Penganalisaan itu membantu memberi pengalaman baru dalam menyusun dan merencanakan langkah-langkah baru pula. Seorang supervisor yang selalu berusaha untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi selalu berusaha mendapatkan pengalaman-pengalaman baru dari hasil belajar yang diperolehnya.
7.      Memberi Pengetahuan Dan Ketrampilan (Skiil) Pada Setiap Anggota Staf.
Pada setiap guru selalu ada potensi dan dorongan untuk berkembang . kebanyakan potensi-potensi ini tidak dapat direalisir karena banyak faktor-faktor yang menghalanginya, baik faktor obyektif maupun faktor subyektif. Untuk bertumbuh dalam jabatan, diperlukan kondisi-kondisi obyektif yang memungkinkan pertumbuhan itu. Supervisi berfungsi memberi stimulir dan membantu guru agar mereka memperkembangkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengajar. Ini hanya mungkin bila selalu ada latihan dan bantuan kepada setiap guru, setiap orang baik ia sudah dewasa atau ia sebagai guru, tetapi pada saat-saat tertentu ia membutuhkan bantuan dan dorongan orang lain untuk memperoleh pengetahuan baru. Menambah pengetahuan baru dan latihan-latihan untuk mendapatkan ketrampilan ini adalah selalu fungsi supervisi pendidikan.
8.      Mengintregasikan Tujuan Dan Pembentukan Kemampuan
Dasar mengintegrasikan tujuan dan kemampuan seseorang terletak dan berakar dalam aspek psychologis dari sifat manusia. Untuk mencapai suatu tujuan kita harus mengukur/menyadari dahulu kemampuan yang ada, tujuan yang dikejar dapat dicapai.
Fungsi supervisi ialah membantu setiap individu, maupun kelompok agar sadar akan nilai-nilai yang akan dicapai itu, memungkinkan penyadaran akan kemampuan diri sendiri.[5]
Ngalim Purwanto mengatakan bahwa fungsi-fungsi supervisi pendidikan sangat penting diketahui oleh para pemimpin pendidikan termasuk kepala sekolah, adalah sebagai berikut:
1.      Dalam bidang kepemimpinan
a.       Menyusun rencana dan policy bersama.
b.      Mengikutsertakan anggota-anggota kelompok (guru-guru, pegawai) dalam berbagai kegiatan.
c.       Memberikan bantuan kepada anggota kelompok dalam menghadapi dan memecahkan persoalan-persoalan.
d.      Membangkitkan dan memupuk semangat kelompok, atau memupuk moral yang tinggi kepada anggota kelompok.
e.       Mengikutsertakan semua anggota dalam menetapkan putusan-putusan.
f.       Membagi-bagi dan mendelegasikan wewenang dan tanggungjawab kepada anggota kelompok, sesuai dengan fungsi-fungsi dan kecakapan masing-masing.
g.      Mempertinggi daya kreatif pada anggota kelompok.
h.      Menghilangkan rasa malu dan rasa rendah diri pada anggota kelompok sehingga mereka berani mengemukakan pendapat dengan kepentingan bersama.
2.      Dalam hubungan kemanusiaan           
a.       Memanfaatkan kekeliruan ataupun kesalahan-kesalahan yang dialaminya untuk dijadikan pelajaran demi perbaikan selanjutnya, bagi diri sendiri maupun bagi anggota kelompoknya.
b.      Membantu mengatasi kekurangan ataupun kesulitan yang dihadapi anggota kelompok, seperti dalam hal kemalasan, merasa rendah diri, acuh tak acuh, pesimistis, dsb nya.
c.       Mengarahkan anggota kelompok kepada sikap-sikap yang demokratis.
d.      Memupuk rasa saling menghormati di antara sesama anggota kelompok dan sesama manusia.
e.       Menghilangkan rasa curiga-mencurigai antara anggota kelompok .
3.      Dalampembinaan proses kelompok
a.       Mengenal masing-masing pribadi anggota kelompok, baik kelemahan mapun kemampuan masing-masing.
b.      Menimbulkan dan memelihara sikap percaya-mempercayai antara sesama anggota maupun antara anggota pimpinan.
c.       Memupuk sikap dan kesediaan tolong-menolong.
d.      Memperbesar rasa tanggung jawab para anggota kelompok.
e.       Bertindak bijaksana dalam menyelesaikan pertentangan atau perselisihan pendapat di antara anggota kelompok.
f.       Menguasai teknik-teknik memimpin rapat dan pertemuan-pertemuan lainya.
4.      Dalam bidang administrasi personel
a.       Memilih personil yang memiliki syarat-syarat dan kecakapan yang diperlukan untuk suatu pekerjaan.
b.      Menempatkan personil pada tempat dan tugas yang sesuai dengan kecakapan dan kemampuan masing-masing.
c.       Mengusahakan susunan kerja yang menyenangkan dan meningkatkan daya kerja serta hasil maksimal.
5.      Dalam bidang evaluasi
a.       Menguasai dan memahami tujuan-tujuan pendidikan secara khusus dan terinci.
b.      Menguasai teknik-teknik pengumpulan data untuk memperoleh data yang lengkap, benar, dan dapat diolah menurut norma-norma yang ada.
c.       Menguasai dan memiliki norma-norma atau ukuran-ukuran yang akan digunakan sebagai kriteria penilaian.
d.      Menafsirkan dan menyimpulkan hasil-hasil penilaian sehingga mendapat gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan perbaikan-perbaikan.[6] Jika fungsi-fungsi supervisi di atas benar-benar dikuasai dan dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh setiap pemimpin pendidikan termasuk kepala sekolah terhadap para anggotanya, maka kelancaran jalanya sekolah atau lembaga dalam pencapaian tujuan pendidikan akan lebih terjamin.


[1] Sahertian, Prinsip dan Teknik, hal. 25.
[2] Burton, W.H. dan Lee J. Bruckneer, Supervision” New York: Applenten Cenrtury-Croff, Inc.1955. hal. 3.
[3] Wiles, Kimball, Supervision for, hal. 10.
[4] Swearingen, Supervision of instruction, New York: John Willey and Somes 1956. hal. 242

[5] Sahertian, Prinsip dan Teknik, hal. 26 – 30.

[6] Purwanta  M. Ngalim, Administrasi, hal. 86-87.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar