Jumat, 02 Desember 2011

Jenis Pelayanan dalam Supervisi Pendidikan


A.    Membantu Guru-Guru Dalam Memilih Dan Mengorganisir Bahan-Bahan Pelajaran

1.      Pembinaan Kurikulum Sebagai Suatu Masalah Supervisi

Membantu guru-guru membina kurikulum adalah barangkali merupakan kesempatan terbaik bagi supervisor untuk melayani guru-guru. Penyusunan bahan pelajaran, sebaiknya merupakan pekerjaan yang kontinyu, bukan sekedar periodik. Kurikulum, senantiasa memerlukan perbaikan sesuai dengan kebutuhan anak, orang tua dan masyarakat yang makin hari makin berkembang.
Bantuan perlu diberikan kepada guru-guru dalam usaha pembinaan mata pelajaran. Hal ini disebabkan karena “pre-service education” yang diperoleh guru-guru dirasa kurang memadai. “Pre-service training” bagi guru-guru mengenai penyusunan bahan pelajaran tidak memberi kesempatan untuk mempraktikkan pekerjaan yang lebih kaya misalnya dalam hal pemilihan buku-buku teks, pengenalan jiwa anak remaja dan pertumbuhannya. Di samping itu, guru-guru belum memperoleh cukup bekal untuk mengerti tentang kebutuhan hidup masyarakat. Setelah mereka bekerja, diharapkan pandangan hidup mereka berubah, lebih mengenal anak dan pertumbuhanya, serta mampu mempraktikkan pengajaran anak dan pertumbuhanya, serta mampu mempraktikkan pengajaran yang efektif dengan menggunakan “resource units” dan buku-buku pelajaran. Untuk itu, guru-guru perlu dibantu dengan supervisi.
Maurine Ahrens, Director of Instruction of the Battle Creek, Michigan seperti yang di kutip oleh Hendiyat, mengemukakan prinsip-prinsip pengorganisasian dan pembinaan bahan pelajaran/kurikulum sebagai berikut:


1)            Pengembangan program pengajaran hendaknya melibatkan kelompok dalam perencanaan.
2)            Guru dipandang sebagai orang kunci (key person) dalam setiap pengorganisasi pengajaran.
3)            Sekolah merupakan unit ideal bagi pengembangan program pengajaran.
4)            Pengembangan kurikulum adalah proses yang kontinyu.
5)            Organisasi pengembangan kurikulum hendaknya dengan dasar filsafat dan tujuan yang jelas.
6)            Administrasi hendaknya melayani pengajaran.
7)            Setiap usaha reorganisasi kurikulum hendaknya melibatkan para administrator, guru-guru orang tua dan minat
8)            Organisasi pembinaan kurikulum hendaknya mencakup program “in-service education”.
9)            Replaning hendaknya tidak meniadakan kesempatan perencanaan para murid.
10)        Organisasi pengembangan kurikulum hendaknya merangsang eksperimentasi dan research.
11)        Organisasi pengembangan pengajaran hendaknya mencakup “on-going evaluation program”. [1]

2.      Membantu Guru-guru Mengidentifikasi Tujuan Pengajaran

Salah satu tanggungjawab terpenting dari pemimpin pendidikan ialah mengusahakan agar guru-guru bertumbuh dan mengerti tentang hakekat dan proses belajar. Untuk itu guru-guru harus mengetahui tujuan pengajaran bagi murid-murid. Guru-guru hendaknya menyadari, bahwa mata pelajaran adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pengajaran.
Dalam rangka berpartisipasi dalam perencanaan mata pelajaran, guru-guru hendaknya disamping mengetahui perubahan kondisi kehidupan masyarakat, juga menyadari adanya permasalahan dan tuntutan-tuntutan hidup yang menyebabkan perubahan-perubahan.
Dalam membina mata pelajaran, guru-guru hendaknya berkesempatan dan mampu bekerja menurut kreatifitas dan manajemen mereka sendiri. Itulah sebabnya, mereka perlu dibantu mengidentifikasi tujuan pengajaran.

3.      Membantu guru-guru Menggali dan Mengembangkan Bahan Pelajaran

Sudah lazim, bahwa guru-guru dalam merencanakan aktivitas dan pengalaman belajar menggunakan buku-buku teks, perpustakaan dan bahan-bahan laboratories. Akhir-akhir ini ada kemajuan dalam praktik untuk menstimulir kehiatan-kegiatan belajar dalam situasai-situasi yang memberikan pengalaman-pengalaman belajar. Kegiatan ini tidak hanya terbukti dengan meningkatnya penggunaan “visual aids”, tetapi juga meningkatnya usaha memanfaatkan serta mempelajari masyarakat, organisasinya, metode pengembanganya serta permasalahanya.
Mempelajari masyarakat bukan hanya melalui buku, famplet, surat kabar dan sebagainya, tetapi juga membawa murid-murid untuk mengunjungi dan berpartisipasi di dalam kegiatan masyarakat.
Dalam hubunganya dengan penyusunan mata pelajaran, guru dapat menggunakan orang-orang dari masyarakat sebagai “resource persons” yang bekerja bersama guru memberi pengalaman belajar kepada murid-murid.
Untuk menyajikan bahan pelajaran, sering guru tidak menyadari adanya ”fallacies” atau verbalisme. Dalam hal ini, bantuan supervisor untuk menghindari “fallacies” sangat diperlukan.

4.      Membantu Guru-guru Memilih Textbooks

Pembinaan kurikulum pada kebanyakan sekolah sebagian besar bertalian dengan pemilihan dan penyesuaian textbooks, pemilihan textbooks menjadi hal yang terpenting bagi penyajian mata pelajaran.
Para partisipator reorganisasi suatu pelajaran atau memilih buku-buku teks harus memahami teori, ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan.
Kriteria untuk mengevaluasi mata pelajarn atau textbooks:
1)      Topik-topik atau unit-unit bahan hendaknya sesuai dengan tujuan sekolah dan tujuan mata pelajaran.
2)      Topik mengandung:
a)      sumbangan terhadap tujuan mata pelajarn
b)      ukuran kesulitan
c)      prasarat bagi topik atau mata pelajaran lain.
3)      Valid
4)      Memenuhi prinsip-prinsip belajar mengajar.
5)      Memperhatikan content, struktur kalimat, vocabulary, dan stytle dari pada murid
6)      Urutan bahan memperhatikan:
a)      pengenalan ide-ide baru
b)      tingkat kesukaran
c)      logis
d)     dapat dihubungkan dengan topic-topik lain
7)      Disesuaikan dengan taraf kemampuan murid.
8)      Memberi kesempatan untuk diagnosa dan penyembuhan kesulitan belajar.
9)      Mengusahakan kedekatan materi dengan tingkat/kelas-kelas lainya.
10)  Menantang dan menggairahkan belajar.
11)  Dilengkapi dengan appendix, indeks, glossaries footnotes, section, paragraph heading, ilustrasi dan lain-lain.
12)  Memungkinkan transfer pada pelajaran atau situasi lain.
13)  Memelihara minat siswa.
14)  Penilaian terhadap textbooks dapat menggunakan “check lists”.

5.      Membantu Guru-guru Mempelajari Murid-murid Dan Kebutuhan Mereka.

Pemilihan organisasi dan penggunaan bahan pelajaran harus disesuaikan dengan keadaan murid. Oleh karena itu, guru harus mengetahui bagaimana murid-murid belajar dan bertumbuh.
Guru-guru perlu dibantu untuk mengenal perbedaan individual murid-murid dan dalam hal menghargai perbedaan itu. Perbedaan individu murid dapat menyangkut pengalaamn dan prestasi belajar sebelumnya, status, minat, temperamen, cita-cita, dan lain-lain.
Dalam pelaksanaannya, kepala sekolah sebagai supervisor harus memperhatikan prinsip-prinsip: (1) hubungan konsultatif, kolegial, dan bukan hierarkhis, (2) dilaksanakan secara demikratis, (3) berpusat pada tenaga kependidikan (guru), (4) dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan (guru), (5) merupakan bantuan profesional.[2]

6.      Personalia dan Organisasi Penyusunan Bahan Pelajaran.

Dalam usaha penyusunan bahan pelajaran dapat digunakan konsultan ataupun “curriculum leaders”, baik dari para administrator maupun supervisor. Mereka dapat menyarankan suatu prosedur atau membentuk panitia, serta mengikut sertakan guru-guru untuk menyusun bahan pelajaran.
Tugas-tugas daripada “curriculum leaders” antara lain:
-          membantu guru-guru menggunakan metode mengajar.
-          Bertindak sebagai penengan antara dewan guru dan kantor Pembina.
-          Bekerja dengan panitia pengajaran dan dewan guru dalam perencanaan dan pembinaan program pengajaran.
-          Mengkoordinir pelayanan-pelayanan fisik misalnya audiovisual aids, ruang evaluasi, bahan pelajaran, ruang bimbingan dan lain-lain.
-          Membantu guru-guru dalam menggunakan pelayanan-pelayanan masyarakat.
-          Bersama-sama guru merencanakan pengajaran unit dan bahan-bahan lain untuk pelajaran di kelas.
-          Pengadaan guru-guru baru.
-          Bersama-sama dewan guru panitian pengajaran merencanakan artikulasi dengan sekolah-sekolah lain.
-          Mengkoordinir keseluruhan program sekolah.
Penyusunan bahan pelajaran ini dapat pula mengikut sertakan orang-orang awam, di mana guru-guru dan para supervisor dapat bertukar pendapat dan pengalaman dengan mereka.[3]

7.      macam-macam “Inservic Action

Dalam hubunganya dengan pembinaan mata pelajaran, ada bermacam-macam “in-service activities”, antara lain:
1)      Penempatan guru-guru baru; sebelum guru-guru baru mulai bekerja, kepada mereka dapat diberikan orientasi sekolah/tugas atau diperbantukan kepada seorang guru senior terlebih dahulu.
2)      Pre-session dan post-session plannings; pada awal atau akhir tahun ajaran, guru-guru dapat diberti penyegaran selama satu atau dua minggu untuk meningkatkan pertumbuhan mereka.
3)      Workshop; kesempatan bagi guru-guru untuk mempelajari permasalahan yang berhubungan langsung dengan pekerjaan mereka dalam kondisi yang demokratis tanpa memandang organisasi dan prosedur-prosedur kelas yang konvensional.
4)      Pelayanan konsultan; pelayanan dari orang yang ditunjuk memberikan bantuan kepada guru-guru mengatasi permasalahan yang mereka hadapi.
5)      Professional library and curriculum laboratory.
Professional library, biasanya berisikan:
a)      courses of study
b)      resource units
c)      textbooks
d)     buku-buku, brosur-brosur dan pamphlet-pamflet mengenai       kurikulum. Psikologi, pendidikan, dan lain-lain.
e)      Audio-visual-aids.

B.     Membantu Guru-Guru Menyesuaikan Pengajaran Dengan Perbedaan Individual.

1.      Membantu Guru-Guru Menyadari Adanya Perbedaan di Antara Murid-Murid.

Selama ada usaha menyesuaikan pengajaran dengan perbedaan individual, dan usaha itu memerlukan informasi tentang perbedaan tersebut, maka bantuan kepada guru-guru dapat diberikan. Pengumpulan data tentang ciri-ciri masing-masing anak untuk mengetahui tingkat dan jenis perbedaan individual murid. Beberapa data  berikut sangat berguna untuk mengenal perbedaan  murid-murid:
1)      Latar belakang keluarga, pekerjaan ayah, pendidikan orang tua, tingkat ekonomi dan kultural keluarga, dan sebagainya mempegaruhi minat orang tua dan anak terhadap sekolah serta tipe-tipe belajar anak; skor-skor skala sosiometri.
2)      Pengalaman dan minat-minat; pekerjaan, kesenangan dan pengalaman/minat-minat lainya di luar sekolah; cita-cita informasi yang terkumpul dari observasi kegiatan; ambisi-ambisi jabatan.
3)      Tingkat intelektual: skor-skor tes inteligensi.
4)      Status pendidikan: skor-skor tes prestasi berstandar atau tes-tes obyektif buatan guru yang valid dan reliable.
5)      Aptitudes tes: skor-skor tes vocational aptitude misalnya teknik mesin, musik, ketata usahaan, bahasa, dan matematik.
6)      Kebiasaan dan ketrampilan belajar: skor-skor tes kemampuan membaca berbagai bidang, tes-tes vocabulary, tes ketrampilan belajar, dan observasi kebiasaan belajar murid-murid.
7)      Sifat-sifat kepribadian: skor-skor dari scales, inventories atau tes-tes pengukur kepribadian, stabilitas emosi, kematangan social, dan sifat-sifat lainya.
8)      Sifat-sifat jasmani: ukuran kesehatan, cacat-cacat jasmani melalui tes-tes pisik dan medis.
Data di atas sebaiknya tersimpan di sekolah, misalnya dalam bentuk cumulative records. Guru-guru perlu dibantu untuk menyadari adanya perbedaan individual pada murid-murid. Kepala sekolah dan supervisor dapat memberikan instrument serta penjelasan tentang metode pengumpulan informasi kepada guru-guru. Bilamana perlu, supervisor dan kepala sekolah memberikan guru-guru. Bilamana perlu, supervisor dan kepala sekolah memberikan data kepada guru-guru mengenai perbedaan individual anak. Guru-guru dapat pula memperoleh data dari kantor-kantor pendidikan.
Manfaat dat bagi guru-guru ialah antara lain:
-          membantu penempatan murid-murid yang berprestasi kurang
-          menentukan murid-murid mana yang memerlukan bantuan khusus.
-          Memberi dasar pelayanan konseling.
-          Memberi bahan untuk individual conferences mengenai permasalahan yang dihadapi murid
-          Menjadi bahan untuk diagnosa dan penyembuhan kesulitan belajar murid
Guru-guru harus dapat menginterpretasi data tentang murid-murid. Mereka ingin mengetahui penggunaan masing-masing tes, validitas dan reliabilitanya. Untuk itu guru-guru memerlukan bantuan untuk mempelajari bagaimana menginterpretasikan data serta dapat mengatasi permasalahan perbedaan individual. Bantuan tersebut dapat diberikan melalui conferences dimana mereka dapat mempraktikkan cara mempertimbangkan informasi tentang murid-murid tertentu.

2.      Mengembangkan cara-cara Pemecahan Masalah-masalah perbedaan individual.

Rapat-rapat dewan guru hendaknya diadakan untuk membicarakan masalah perbedaan individual murid. Beberapa usaha berikut ini dapat dipertimbangkan:
1)      Pemberian berbagai macam tugas menurut kemampuan dan prestasi.
2)      Pemberian pre-testing dan penyesuaian kegiatan awal belajar.
3)      Pengikut sertaan murid di dalam perumusan tujuan.
4)      Pemberian bahan pelajaran menurut perbedaan kemampuan.
5)      Pengadaan homogeneous grouping, penyesuaian isi pelajaran dengan tingkat kemampuan anak.
6)      Penggunaan metode laboratories dalam pengajaran.
7)      Pengembangan pengajaran tentang bagaimana belajar.
8)      Pelaksanan tes diagnostic dan pengajaran remedial.
9)      Pengembangan program pengajaran individual.
Disamping dengan pengadaan rapat dewan guru, pengembangan cara-cara pemecahan masalah perbedaan individual dapat ditempuh dengan jalan:
a)      Penggunaan metode kooperatif; panitia-panitia dapat dibentuk menyelidiki perbedaan individual murid, baik melalui studi literature maupun perkunjungan dan questionnaire.
b)      Mengundang guru-guru untuk berpartisipasi dalam diskusi-diskusi, terutama mereka yang berpengalaman.
c)      Menyesuaikan pengajaran dengan kebutuha-kebutuhan individual.
Guru perlu memberikan perhatian kepada siswa yang menonjol akan merupakan sesuatu yang sangat tinggi nilainya bagi siswa yang bersangkutan dan dampaknya akan membias kepada siswa-siswa lain di kelasnya.[4]

3.      Penggunaan Pengajaran Diagnostik dan Remedial Untuk Memecahkan masalah-masalah Perbedaan Individual.

Guru-guru memerlukan pengetahuan dan ketrampilan menggunakan tes dan pengajaran diagnostic yang komprehensif, reliable dan obyektif. Untuk itu, mereka membutuhkan waktu, training dan praktik. Kebutuhan yang sama dimiliki oleh gru-guru dalam rangka pengajaran remedial.
Supervisor yang bijaksana akan membantu guru-guru menggunakan tes-tes diagnostic yang hasilnya dapat diapakai untuk “reteach”.
Sering guru-guru kurang mampu menyusun tes diagnostic atau mendiagnosa kesulitan belajar murid karena kurang mampu menganalisa bahan pelajaran. Para supervisor dapat membantu guru-guru tersebut untuk menganalisa bahan pelajaran, sehingga guru-guru mampu menemukan sebab-sebab keagagalan belajar. Dengan diketahuinya sebab-sebab kegagalan belajar, maka guru-guru akan mampu melaksanakan pengajaran remedial.
Penyusunan tes-tes diagnostic memerlukan banyak ruang untuk treatment. Professional library pada sekolah lanjutan hendaknya berisi references yang membantu guru-guru dalam menyusun dan menginterpretasi test diagnostic.
Kegagalan untuk mengetahui sebab-sebab kesulitan murid dalam belajar merupakan sebab lain dari ketidak mampuan guru-guru dalam menggunakan tes-tes diagnostic. Ada beberapa sebab kegagalan murid dalam belajar: kurangnya pengetahuan umum, kurangnya latihan, kurang tepatnya teknik belajar, kurang jelasnya pelajaran, kurang minat dan faktor-faktor lingkungan rumah/keluarga. Guru-guru harus melengkapi hasil tes diagnostic mereka dengan informasi dari sumber-sumber lain, misalnya skor tes intelegensi, school records dan observasi guru terhadap kebiasaan belajar, sikap, minat, pengaruh lingkungan dan keadaan jasmani murid-murid. Guru-guru harus dibimbing untuk meneliti usaha-usaha pengajaran mereka.

4.      Membantu Guru-guru Dalam Pengajaran Kelompok-kelompok Homogen.

Ada sekolah-sekolah yang mengelompokkan murid secara homogen menurut tingkat-tingkat kemampuan murid. Ide pengelompokan timbul karena pengenalan tingkat-tingkat kemampuan murid dalam kelas-kelas heterogen. Murid-murid yang mempunyai kemampuan hampir sama dikelompokkan dalam satu kelompok secara homogen.
Bukti-bukti eksperimental menunjukkan, bahwa pengajaran terhadap murid-murid dengan pengelompokkan secara homogen berhasil lebih baik daripada terhadap kelompok heterogen.
Permasalahan mengenai pengelompokkan antara lain:
-          pengelompokkan hanyalah belum sepenuhnya merupakan cara pengajaran yang paling tepat, karena sering terjadi penempatan murid secara salah.
-          Ada kritik, pengelompokkan dapat mengakibatkan ketidakseimbangan emosi, terutama pada anak-anak pada kelopok si lamban
-          Grouping hanya mudah dilaksanakan pada sekolah-sekolah yang besar daripada sekolah-sekolah kecil.
Guru-guru harus menyadari, bahwa pengelompokkan hnayalah cara administrative dalam rangka pelayanan belajar murid-murid yang berkemampuan relative homogen. Mereka harus menyadari, meskipun menghadapi homogenous grouping, namun murid-murid pada tiap-tiap kelompok tetap heterogen.

C.    Membina Bimbingan Belajar Murid-Murid 

1.            Perlunya Pembinaan Bimbingan Belajar

Guru-guru dan para pendidik yang progresif telah menyadari pentingnya teknik dan kebiasaan belajar murid-murid. Di lain pihak terdapat kecenderungan murid-murid sekolah menengah untuk melaksanakan belajar terpimpin.
Kebutuhan akan belajar terpimpin ini antara lain disebabkan karena banyaknya jumlah murid yang secara relative bertaraf mental rendah.
a)      Adanya keinginan mengembangkan kebiasaan belajar untuk mencapai kemampuan intelek yang lebih tinggi.
b)      Kurang memadainya bentuk-bentuk pengajaran.
Guru-guru mengakui kurangnya persiapan mereka untuk membibing belajar murid. Mereka kurang mampu mendiagnosa sebab-sebab kegagalan belajar murid, kurangnya pengetahuan tentang psikologi belajar, gagalnya pelaksanaan pengajaran yang efektif. Disinilah kesempatan bagi supervisor untuk membantu gru-guru membimbing belajar murid.

2.            Mendiagnosa permasalahan Murid dalam Belajar

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan murid dalam belajar. Faktor-faktor tersebut antara lain ialah:
1)            Pengertian tentang tugas yang dipelajari
2)            Pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan teknik-teknik belajar.
3)            Pengetahuan dan kemampuan menggunakan alat-alat belajar
4)            Ketrampilan belajar foundamental, misalnya kemampuan membaca, membuat outline, atau meringkas.
5)            Kemampuan intelek murid.
6)            Sikap murid terhadap pelajaran, guru, atau sekolah.
7)            Prestasi dalam mata pelajaran-mata pelajaran yang berkaitan.
8)            Kondisi pisik murid.
9)            Lingkunagn belajar.
10)        Jadwal belajar murid.
11)        Kondisi dan latar belakang rumah.[5]
Salah satu masalah yang mula-mula dihadapi oleh guru ialah menemukan sebab-sebab lemahnya kebiasaan belajar murid, sehingga langkah-langkah dapat diambil untuk mengatasinay. Untuk itu guru harus mendiagnosa kesulitan belajar murid dengan menggunakan; pupil records, inventories, observasi kegiatan belajar, menganalisa kesalahan-kesalahan murid dalam tes-tes, karangan, resitasi, tes-tes kebiasaan belajar, case study.
Tugas supervisor ialah mendorong guru-guru untuk menemukan permasalahan belajar murid, mampu mengumpulkan informasi tentang kebiasaan belajar, menganalisa informasi itu serta melaksanakan prosedur-prosedur remedial.
Hal-hal pokok yang perlu mendapat perhatian pengawas dalam melaksanakan kegiatan supervisi baik di sekolah umum maupun di madrasah adalah:
a.       Supervisi/pengawasan hendaknya dilaksanakan secara berkesinambungan/turut.
b.      Supervisi hendaknya dilakukan pada awal dan akhir semester, hal tersebut dimaksudkan sebagai bahan perbandingan.
c.       Supervisor terampil dalam menggunakan berbagai instrumen supervisi.
d.      Mampu mengembangkan instrumen supervisi sesuai dengan kebutuhan sekolah/madrasah masing-masing.
e.       Kegiatan supervisi/pengawasan bukan untuk mencari kesalahan dan bukan pula menggurui, tapi bersifat pemecah masalah, pembinaan, pengarahan dalam rangka mencari solusi yang lebih baik.
f.       Supervisor hendaknya mencakup segi teknis pendidikan dan administrasi.
g.      Supervisi hendaknya menguasai substansi yang disupervisi dan melengkapi dengan berbagai instrumen yang dibutuhkan.
h.      Supervisor hendaknya memiliki wawasan yang luas dan kemampuan profesional yang lebih tinggi dari orang yang disupervisi.
i.        Dalam pelaksanaan supervisi prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi (KISS) hendaknya diperhatikan dengan sungguh-sungguh.[6]

3.            Membantu Guru-guru dalam Mengembangkan Kebiasaan Belajar Yang tepat

Belajar anak dipengaruhi oleh faktor-faktor pisik dan psikologis. Dalam mengajarkan teknik-teknik belajar, pengajar harus mempertimbangkan semua faktor yang mempengaruhi belajar, berusaha mengembangkan cara-cara belajar yang ditunjang oleh pengaruh yang baik, dan mengurangi pengaruh-pengaruh yang tak diinginkan. Tanggung jawab supervisor ialah membantu guru bukan hanya dalam menganalisa dan mendiagnosa permasalahan belajar murid, tetapi juga dalam pengembangan metode mengajarkan teknik-teknik belajar yang baik.
Sikap murid adalah penting. Guru perlu dibantu dalam usaha membangun sikap yang tepat pada murid-murid. Hubungan yang bersahabat, simpatik dan businesslike harus diciptakan antara guru dan murid-murid.
Minat belajar murid tergantung kepada motivasi yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu guru hendaknyamemotivasi belajar anak, misalnya dengan jalan: penyajian pelajaran dengan baik, mengajak murid berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan belajar, memberi tugas-tugas dengan jelas, memilih dan mengorganisir bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan murid.
Kebiasaan belajar murid dapat pula dikembangkan dengan penciptaan kondisi lingkungan pisik yang menyenangkan untuk belajar, baik di kelas maupun di rumah. Murid-murid perlu pula diajar tentang bagaimana menggunakan textbooks secara efektif.
Langkah-langkah lainya yang dapat diambil oleh guru ialah: membina pengetahuan murid tentang teknik-teknik belajar dan bagaimana menggunakanya; membina kemampuan membaca pada murid-murid; membina kemampuan menghafal dan mengingat; membina kemampuan problem solving; pemberian berbagai macam tugas; dan mengembangkan independent study.

4.            Pembinaan Perpustakaan dan Penggunaanya Untuk Belajar.

Perpustakaan di sekolah harus menjadi pusat kehidupan intelektual bagi guru-guru dan murid-murid. Bahan-bahan kepustakaan harus memadai sehingga perpustakaan dapat digunakan secara efektif.
Para supervisor hendaknya membantu guru-guru untuk memeriksa, apakah buku-buku yang tersedia diperpustakaan sudah memadai bagi kepentingan semua jurusan di sekolah. Panitia-panitia yang terdiri atas wakil-wakil jurusan dapat bekerja bersama librarian untuk mengembangkan “a well balanced library”.
Guru-guru yang berusaha menggunkan bahan-bahan kepustakaan memerlukan persediaan buku-buku yang mewakili bidang pelajaran yang mereka bina, pada perpustakaan.
Perpustakaan hendaknya bukan hanya untuk pelayanan pengajaran bagi murid-murid, tetapi juga sebagai “professional library” bagi guru-guru. Buku-buku yang bertalian dengan pendidikan, psikologi pendidikan, filsafat, sosiologi, metodologi pengajaran, statistic dasar, metodologi research, kegiatan ekstrakuler, dan bidang-bidang pendidikan lainya hendaknya tersedia di perpustakaan.
Agar perpustakaan digunakan secara efektif, maka;
a.       Supervisor hendaknya menstimulir guru-guru untuk menggunakan perpustakaan.
b.      Kepada murid-murid diberi pelajaran bagaimana menggunakan perpustakaan.
Dalam rangka membimbing belajar murid, banyak sekolah lanjutan yang mengakui perlunya beberapa bentuk organisasi administrative untuk organisasi administrative untuk mengembangkan program pembinaan belajar. Pada umumnya, bentuk-bentk organisasi administrative tersebut ada dua jenis:
1)      Pelaksanaan “study coaches” dan “How to studycourses.
2)      Perubahan-perubahan dalam administrasi jam pelajaran.


D.    Membina Partisipasi Guru-Guru Di Dalam Aktivitas-Aktivitas Dan Pelayanan-Pelayanan

1.      Pembinaan guru Dalam Membimbing Kegiatan ekstra kurikuler.

Dengan makin adanya kesadran tentang pentingnya kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, maka kepala sekolah dan para supervisor merasa terpanggil untuk membina guru-guru menjadi pembimbing kegiatan-kegiatan tersebut.
Dalam usaha membina guru-guru agar dapat membimbing kegiatan-kegiatan murid, ada tiga permasalahan, yaitu:
1)      Pengembangan sikap staf bertalian dengan apresiasi, kegairahan dan tanggungjawab terhadap kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler.
2)      Membantu guru-guru mengetahui besarnya sumbangan dari pada kegiatan-kegiatan ekstra kurikuler bagi pencapaian tujuan pendidikan;
3)      Membantu staf untuk memperoleh prinsip-prinsip dan teknik-teknik pelaksanaan di dalam membimbing organisasi-organisasi siswa.
Alat-alat dan cara-cara membina kegiatan staf di dalam rangkap program ekstra kurikuler adalah sesungguhnya sama saja dengan supervisi terhadap pengajaran kurikuler.

2.      Membina Pelayanan-pelayanan Guidance Guru-Guru.

Bantuan kepada murid-murid untuk membuat keputusan-keputusan yang bijaksana, dan dalam waktu yang sama membuat mereka berangsur-angsur menjadi “independent of the school” sehingga mereka mampu mengontrol langkah laku mereka sendiri, disebut guidance. Guidance mencakup penelitian tentang hakekat murid, dan denagn konseling mengantarkan mereka kearah pengenalan yang lebih baik tentang diri sendiri dan hubunganya dengan lingkunganya.
Pada umumnya, pelayanan guidance diberikan oleh para konselor atau teacher konselor. Bimbingan kesehatan pribadi dapat diberikan oleh dokter sekolah, perawat dan direktur pendidikan kesehatan. Di lain pihak, kesempatan para guru kelas yang setiap hari bergaul dengan murid-murid, adalah penting.
Dalam setiap kegiatan, baik kurikuler maupun ekstra kurikuler, guru-guru sesungguhnya selalu melaksanakan tugas bimbingan.
Dalam hubungan ini, tanggung jawab kepala srkolah ialahmemberi kesempatan kepada guru-guru untuk mendapatkan “in-service training” mengenai pelayanan guidance. Guru-guru hendaknya mampu menggali informasi untuk keperluan guidance, mencatat dan menyimpan informasi, menganalisa data, dan berdasarkan hasil analisa data tersebut guru-guru dapat melakukan konseling 
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru-guru dalam melaksanakan konseling antara lain:
1.      Konseling bukan berisikan pemberian nasehat. Konseling adalah suatu proses penggalian informasi tertentu dan menganalisanya bagi murid-murid, dan kemudian membantu mereka membuat penyesuaian atau keputusan.
2.      Murid harus didorong untuk berbicara.
3.      Guru-guru hendaknya mempertimbangkan semua informasi sebagai confidental.
4.      Jika murid membuat pilihan yang kurang tepat, hendaknya dibimbing apa sebabnya.
5.      Guidance hendaknya positif bagi anak.[7]
Semua guru adalah konselor, tiap hari bergaul dan berwawancara dengan murid-murid. Meskipun demikian, berhubung pelayanan bimbingan mempunyai hakikat dan cirri-ciri tertentu, sekolah perlu memilih beberapa anggota staf untuk bertindak sebagai guidance counselors, homeroom sponsors, dan regristration advisers. Tentu saja mereka ini perlu mendapatkan persiapan dan latihan-latihan khusus dalam hal pelaksanaan guidance, melalui rapat-rapat, penataran, atau extextension course bimbingan.

3.      Membina Guru-guru Dalam Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas yang efektif dapat dibina berdasarkan konsep yang jelas tenteang tujuan dari pada “pupil control”. Tujuan dimana politices dan ukuran-ukuran control dibuat, dapat diturunkan sebagai berikut:
1)      Penciptaan dan pemeliharaan kondisi-kondisi belajar yang cocok, bebas dari gangguan-gangguan.
2)      Pengembangan ide-ide, minat, kebiasaan dan ketrampilan murid untuk menjadi self-control dan menjadi warga yang baik.
3)      Penetapan dan pemeliharaan kewibawaan guru dan sekolah.
Tanggungjawab supervisor ialah membantu guru-guru dalam menangani kasus-kasus disiplin mereka melalui group conferences maupun individual conferences, membahas akibatnya bagi murid dan sekolah mengenai berbagai perlakuan, hukuman atau tindakan lainya.
Kecenderungan untuk mengabaikan permasalahan pengelolaan atau disiplin murid di dalam pembinaan guru-guru adalah kurang bijaksana.

4.      Membina Guru-guru Dalam Pergaulan Profesional Mereka.

Supervisor hendaknya membantu guru-guru kepala sekolah, supervisor, staf sekolah lainya, superintendent, dan sebagainya.
Sumbangan supervisor dalam hal ini tidak dapat diberikan secara langsung. Ia membantu guru-guru untuk menyadari pentingnya pertimbangan jabtan untuk mencapai penyesuaian-penyesuaian yang sebaik-baiknya dalam bentuk sikap dan kebiasaan kerja yang tepat.
Sebagai contoh tentang apa yang dimaksud dengan sikap-sikap dan kebiasaan kerja yang tepat ialah:
1.      Sikap impersonal dan kebiasaan mengendalikan diri atas kritik-kritik dari supervisor, kepala sekolah, atau superintendent.
2.      penghargaan yang layak terhadap kemampuan dan kelebihan para petugas dan guru-guru lain.
3.      Kemampuan mengikuti dan mendukung kebijaksanaan atasan atau kelompok.
4.      kemampuan menghargai kesuksesan-kesuksesan dari rekan-rekan sejawat.
5.      Kesudian dan kebiasaan selalu menahan diri dari pembicaraan yang kurang enak dari orang lain.
Pada tiap-tiap kesempatan, supervisor hendaknya memberi semangat dan keyakinan, bahwa mengajar adalah profesi mereka. Setiap perkataan dan tindakanya hendaknya menunjukkan ketulusannya untuk mengabdi sekolah. Supervisor hendaknya membina loyalitas guru-guru terhadap sekolah, school system beserta program dan policy-nya.
Apabila supervisor adalah juga administrator, masalahnya menjadi sulit, terutama bila ada policies dan program yang ia buta. Supervisor hendaknya berusaha menstimulir atau menambah keyakinan dan minat masing-masing guru terhadap tanggung jawab masing-masing.

E.     Membantu Guru-Guru Yang Mengalami Masalah Secara Individual.

Meskipun dapat ditunjukkan pengalaman dan penyelidikan yang telah dikembangkan yang dapat diterapkan, namun harus disadari bahwa pemilihan teknik-teknik penerapanya harus dirumuskan, agar guru-guru tidak canggung dalam melaksanakannya.
Dalam hal ini guru-guru seperti halnya murid-murid di sekolah, mereka adalah anggota kelompok yang masing-masing individu tidak sama dalam merespon pelayanan supervisi. Beberapa guru barangkali dapat menerima kepemimpinan orang lain, tetapi sebagian yang lain barangkali kurang efektif. Beberapa diantaranya suka membaca bahan-bahan yang dianjurkan, sebagian yang lain kurang betgairah. Beberapa mengharapkan dorongan/pelayanan pribadi yang simpatik, yang lain menyenangi hubungan-hubungan yang lebih formal. Sebagai kelompok, mereka juga berbeda dalam hal latar belakang, pendidikan, kultur, dan pengalaman.

1.      Perbedaan Yang Ada Pada Guru-guru

Masing-masing individu guru berbeda-beda dalam hal:
a)      Latar belakang pendidikan
1)      banyaknya ijazah
2)      Inteligensi dan scholarship
3)      Kursus-kursus yang pernah diikuti
4)      Orientasi profesi.
b)      Sifat-sifat pribadi
1)      Kemampuan untuk self-analysis
2)      Kesehatan dan vitalitas
3)      Penampilan pribadi
4)      Kemampuan bekerja sama
c)      Faktor-faktor psikologis
1)      Drive dan ambisi
2)      Stabilitas emosi
3)      Sensitiveness
4)      Karakter, temperamen, dan kepribadian.
d)     Pengalaman.
1)      Pengalaman mengajar seluruhnya.
2)      Pengalaman dalam pekerjaan sekarang
3)      Pengalaman lain.
e)      Kompetensi mengajar.
1)      Pengetahuan tentang murid-murid dan mata pelajaran
2)      Ketrampilan metodologis
3)      Progresifitas.
f)       Sikap professional
1)      Pelaksanaan etika jabatan
2)      Aktivitas-aktivitas dalam jabatan.
3)      Sikap terhadap pengajaran, sekolah dan masyarakat.[8]
Supervisi yang diberikan kepada guru-guru, hendaknya mendorong dan menyumbang kearah pertumbuhan jabatan guru-guru, dengan memperhatikan perbedaan individual guru-guru, diharapkan supervisor dapat memberikan bantuan yang diperlukan oleh guru-guru, serta perlakuan-perlakuan yang cocok bagi mereka masing-masing.

2.      Guru Yang Tidak Berpengalaman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar